7. Maushul

 

الْمَوْصُوْلُ

BAB MAUSHUL

 

مَوْصُولُ الاسْمَاءِ الَّذِي الأُنْثَى الَّتِي *** وَالْيَـــــا إذَا مَا ثُنِّيَــــا لاَ تُثْــــــبِتِ

Adapun Isim Maushul itu adalah الَّذِي (untuk muzakar), dan untuk jenis perempuan adalah الَّتِي. Jika keduanya di tatsniyahkan , maka huruf Ya’ nya janganlah ditetapkan …


بَلْ مَــا تَلِيْـهِ أَوْلِهِ الْعَلاَمَـــهْ *** وَالنُّوْنُ إنْ تُشْدَدْ فَلاَ مَلاَمَهْ

Tetapi, huruf yang didampingi oleh Ya’ yang dibuang (yaitu huruf sebelum ya’), iringilah ia ! dengan tanda I’rob (yaitu dengan alif ketika bermahal rofa dan dengan ya’ Ketika bermahal nashob atau jar). Nun-nya jika ditasydidkan, maka tidak ada celaan untuk itu.


وَالْنّوْنُ مِنْ ذَيْنِ وَتَيْنِ شُدِّدَا *** أَيْضَاً وَتَعْوِيضٌ بِذَاكَ قُصِدَا

Nunnya dari isim isyarah lafadz ذَيْنِ dan تَيْنِ itu boleh ditasydidkan juga, Pentasydidan tersebut, dimaksudkan sebagai Penggantian dari huruf yangg dibuang yaitu Ya’ nya Isim Maushul dan Isim Isyaroh ketika dibentuk tatsniyah )


جَمْعُ الَّذِي الألَى الَّذِيْنَ مُطْلَقَا *** وَبَعْضُهُمْ بِالْوَاوِ رَفْعَاً نَطَقَا

Bentuk Jamaknya lafadz الَّذِي (Isim Maushul tunggal male) adalah الألَى atau الَّذِيْنَ secara muthlaq (baik untuk mahal Rofa’, Nashab , atau Jar). Sebagian orang Arab mengucapkan “الَّذِيْنَ” dengan menggunakan Wau ketika mahal Rofa’ (menjadi: اَلَّذُوْنَ )


بِاللاَّتِ وَاللاَّءِ الَّتِي قَدْ جُمِعَا *** وَالَلاَّءِ كَالَّذِيْنَ نَزْرَاً وَقَعَا

Lafadz الَّتِي (Isim Maushul tunggal female) jamaknya dibentuk menjadi اللاَّتِ atau اللاَّءِ . Lafadz  اللاَّءِ  menempati الَّذِيْنَ (isim maushul jamak untuk male) dalam kondisi jarang.


وَمَنْ وَمَا وَأَلْ تُسَاوِي مَا ذُكِرْ *** وَهكَذَا ذُو عِنْدَ طَيِّىء شُهِرْ

Adapun Isim Maushul مَنْ, مَا, dan أَلْ adalah hukumnya sama dengan isim maushul yang telah disebut. (artinya: “maa”, “man”, dan “al” juga termasuk isim maushul dan mereka bisa digunakan untuk Male, Female, tunggal, dual, atau Jamak). Seperti itu juga lafadz Isim maushul berupa ذُو terkenal penggunaannya dikalangan dialek kaum Thayyi’.


وَكَالَّتِي أيضـــا لَدَيْـهِمْ ذَاتُ *** وَمَوْضِعَ اللَّاتِي أَتَى ذَوَاتُ

Demikian juga ditemukan di kalangan kaum Thayyi’, penggunaan ذَاتُ seperti kedudukan الَّتِيْ (Isim mausul jenis female tunggal), juga penggunaan ذَوَاتُ menempati kedudukan اللآتِيْ (Isim mausul untuk  jenis female jamak).


وَمِثْلُ مَا ذَا بَعْدَ مَا اسْتِفْهَـامِ *** أَوْمَنْ إذَا لَمْ تُلْغَ فِي الْكَلاَمِ

Isim Maushul ذَا statusnya sama dengan Isim Maushul مَا, dengan ketentuan ذَا jatuh sesudah ما Istifham atau من Istifham, syaratnya ذَا tidak dibiarkan didalam Kalam (maksudnya: “dza” dihitung satu kalimah).


وَكُلُّهَــا يَلْـزَمُ بَعَــدَهُ صِلَـهْ *** عَلَى ضَمِيْرٍ لاَئِقٍ مُشْتَمِلَهْ

Setiap Isim-Isim Maushul menetapkan  adanya Shilah Maushul (jumlah atau syibhul jumlah) setelahnya , yang mana shilah tersebut mengandung isim dhomir yang sesuai (dan  kembali kepada Isim Maushul).


وَجُمْلَةٌ أوْ شِبْهُهَا الَّذِي وُصِلْ *** بِهِ كَمَنْ عِنْدِي الَّذِي ابْنُهُ كُفِلْ

Jumlah atau Syibhul Jumlah adalah Shilah (penghubung) yang disambungkan dengan Isim Maushul, biasanya terdiri dari Jumlah atau Shibhul Jumlah (serupa jumlah). Contohnya : مَنْ عِنْدِي الَّذِي ابْنُهُ كُفِلْ (Artinya : orang yang ada disampingku adalah orang yang anaknya ditanggung)


وَصــفَةٌ صَرِيْحَةٌ صِــلَةُ أَلْ *** وَكَوْنُهَا بِمُعْرَبِ الأَفْعَالِ قَلْ

Bentuk isim Sifat Sharihah (Isim Fai’l/Isim Maf’ul/Sifat Musyabbah) merupakan Shilah maushul untuk  الIsim Mausul ,  sedangkan adanya Shilah maushul  ال  berupa Fi’il Mu’rob (Fi’il Mudhori’) itu jarang adanya.


أَيُّ كَمَا وَأُعْرِبَتْ مَا لَمْ تُضَفْ *** وَصَدْرُ وَصْلِهَا ضَمِيْرٌ انْحَذَفْ

Isim Mausul أيّ “Ayyun” dihukumi seperti Isim Maushul “Ma” (bisa untuk Mudzakkar, Muannats, Mufrod, Mutsanna juga Jama’) selagi tidak Mudhaf dan Shodru Silah-nya (‘A’id maushul yang ada di permulaan Shilah) adalah berupa Dhamir yang terbuang.


وَبَعْضُهُمْ أَعْرَبَ مُطْلَقَاً وَفِي *** ذَا الْحَذْفِ أَيًّا غَيْرُ أَيٍّ يَقْتَفِي

Sebagian Ulama Nahwu menghukumi Mu’rab Isim Mausul أيّ “Ayyun” secara Muthlaq (sekalipun أيّ Mudhaf dan Shodru Shilahnya dibuang). Sedangkan didalam hal pembuangan Shadru Shilah ini, Isim Maushul yang selain  أيّ juga mengikuti jejak أيّ dengan syarat….


إِنْ يُسْتَطَلْ وَصْلٌ وَإِنْ لَمْ يُسْتَطَلْ *** فَالْحَذْفُ نَــــزْرٌ وَأَبَــوْا أَنْ يُخْتَزَلْ

… jika Shilah isim maushul selain “ayyun” tersebut dipanjangkan. Sedangkan jika Shilahnya tidak dipanjangkan, maka pembuangan Shodru Shilah jarang ditemukan. Juga, Mereka (Ulama Nahwu) melarang terhadap pembuangan Shodru Shilah  


إنْ صَلُحَ الْبَاقِي لِوَصْلٍ مُكْمِلِ *** وَالْحَذْفُ عِنْدَهُمْ كَثِيْـرٌ مُنْجَلِي

… jika susunan kata yang tersisa dari Shilah tersebut masih cocok untuk menjadi Shilah yang sempurna (setelah dibuang shodru silahnya). Adapun pembuangan ‘A-id maushul pada Shilah maushul menurut Ulama Nahwu/orang Arab) itu banyak digunakan dan jelas…


فِي عَــــائِدٍ مُتَّصِــلٍ إِنِ انْــتَصَبْ *** بِفِعْلٍ أوْ وَصْفٍ كَمَنْ نَرْجُو يَهَبْ

…didalam ‘Aid maushul yang berupa Dhomir Muttashil bilamana ia bermahal nashob yang disebabkan oleh Fi’il atau isim Sifat. Seperti contoh مَنْ نَرْجُو يَهَبْ. (bentuk asal perkriraannya : مَنْ نَرْجُوهُ يَهَبْ)


كَذَاكَ حَذْفُ مَا بِوَصْفٍ خُفِضَا *** كَأَنْتَ قَاضٍ بَعْدَ أَمْـرٍ مِنْ قَضَى

Seperti itu juga (banyak digunakan dan jelas) yaitu pembuangan ‘Aid yang dikhofadkan/dijarkan oleh kata sifat. Seperti lafadz أَنْتَ قَاضٍ (takdirannya: أَنْتَ قَاضِيْه ) setelah Fi’il Amarnya lafadz قَضَى (dari Firman Allah QS 20:72. فَاقْضِ مَا أَنْتَ قَاضٍ )


كَذَا الَّذِي جُرَّ بِمَا الْمَوْصُوْلَ جَرْ *** كَمُـــرَّ بِــالَّذِي مَرَرْتُ فَهْــوَ بــَــرْ

Demikian juga (Aid sering dibuang), yaitu Aid yang dijarkan oleh Huruf yang menjarkan Isim Maushulnya (dengan Amil yang seragam). contohnya: مُـــرَّ بِــالَّذِي مَرَرْتُ فَهْــوَ بــَــرْ (asal taqdirnya : مُـــرَّ بِــالَّذِي مَرَرْتُ بِهِ. Artinya : berjalanlah kamu dengan orang yang mana aku telah berjalan dengannya)