5. Alam

 

الْعَلَمُ

BAB ISIM ALAM


اسْمٌ يُعَيِّنُ الْمُسَمَّى مُطْلَقَا *** عَلَمُـــهُ كَجَعْـــفَرٍ وَخِـرْنِقَا

Nama yang secara mutlaq menunjukkan kepada sesuatu yang diberi nama, itulah “Isim Alam”, contohnya seperti lafadz “جَعْـــفَر” (Nama Pria) dan “خِـرْنِقَا” (Nama Wanita)


وَقَــرَنٍ وَعَـدَنٍ وَلاَحِقٍ *** وَشَذْقَمٍ وَهَيْلَةٍ وَوَاشِقِ

Juga seperti lafadz “قَــرَنٍ” (Nama Kabilah), ” ‘عَـدَنٍ” (Nama Tempat), “لاَحِقٍ” (Nama Kuda), “شَذْقَمٍ” (Nama Unta), “هَيْلَةٍ” (Nama Kambing) dan “وَاشِقِ” (Nama Anjing).


وَاسْمَـاً أَتَى وَكُنْـيَةً وَلَـقَبَا *** وَأَخِّرَنْ ذَا إِنْ سِوَاهُ صَحِبَا

Isim Alam datang dengan sebutan  “Alami Isim” (Nama Asli). “Alami Kun-yah” (Nama Kemargaan dengan awalan kata “abu” atau “ummu”) dan “Alam Laqob” (Nama Julukan). Akhirkanlah ! susunan “Alam Laqob” ini, jika jenis isim alam selainnya berdampingan dengannya.


وَإِنْ يَكُوْنَا مُفْرَدَيْنِ فَأَضِفْ *** حَتْمَـاً وَإِلاَّ أَتْبِعِ الذي رَدِفْ

Jika keduanya  (alam laqob dan jenis isim alam selainnya) sama-sama berbentuk satu kata, maka Mudhofkanlah! dengan wajib. Tapi jika tidak, maka Tabi’kanlah! Kalimah yang mengerri dibelakang (alam yang kedua dijadikan badal dari alam yang pertama).


وَمِنْهُ مَنْقُولٌ كَفَضْلٍ وَأَسَدْ *** وَذُو ارْتِجَال كَسُعَــــادَ وَأُدَدْ

dan diantara Isim ‘Alam, ada jenis “Alam Manqul” (Nama yang dinukil dari kata Bahasa arab yang sudah ada) seperti contoh “Fadhol” (Nama yang diambil dari isim Masdar, artinya: utama) dan “Asad” ( Nama yang diambil dari jenis hewan artinya: Harimau). Dan diantara jenis isim alam, ada juga jenis “Alami Murtajal” (Nama yang sebelumnya tidak pernah dipakai untuk hal lain kecuali khusus untuk sebuah nama) contoh “Su’ad” dan “Udad”.


وَجُمْلَةٌ وَمَـا بِمَزْجٍ رُكِّبَا *** ذَا إنْ بِغَيْرِ وَيْهِ تَمَّ أُعْرِبَا

dan ada juga “Alam Jumlah” (yaitu nama dari susunan mubtada+Khobar atau fi’il+fa’il) dan  adapula “Alam Tarkib Mazji” (yaitu nama dari campuran dua kalimah menjadi satu). Susunan Isim Alam tarkib mazji yang demikian ini,  jika kesmpurnaan lafadznya tidak diakhiri dengan kata “وَيْهِ” maka alam tersebut dihukumi mu’rob.


وَشَاعَ فِي الأَعْلاَمِ ذُو الإِضَافَهْ *** كَعَــــــبْدِ شَمْــسٍ وَأَبِي قُحَـــافَهْ

Didalam jenis Isim Alam, telah masyhur isim alam berbentuk tarkib Idhofi (mudhof+mudhof ilaih), contoh “عَــــــبْدِ شَمْــسٍ” dan “أَبِي قُحَـــافَهْ


وَوَضَعُوَا لِبَعْضِ الأجْنَاسِ عَلَمْ *** كَعَلَم الأَشْخَـاصِ لَفْــظَاً وَهْوَ عَمْ

Dan mereka orang Arab,  juga menjadikan sebagian Isim Jenis sebagai Isim Alam (alam ini disebut Alam Jinis), secara lafadzh ia dihukumi ma’rifat seperti Alami Syakhsh (Nama Individu) namun secara makna ia tetap umum kandungan ma’na nya.


مِنْ ذَاكَ أمُّ عِرْيَطٍ لِلْعَقْرَبِ *** وَهكَـــذَا ثُعَـــــالَةٌ لِلْثَّعْــــلَبِ

Diantara Alam Jenis itu, adalah lafadz “أمُّ عِرْيَطٍ” nama untuk jenis Kalajengking, demikian juga “ثُعَـــــالَةٌ” nama untuk jenis Musang.


وَمِثْلُـــهُ بَرَّةُ لِلْمَبَرَّهْ *** كَذَا فَجَارِ عَلَمٌ لِلْفَجرَهْ

Seperti itu juga, lafadz “بَرَّةُ” merupakan jenis untuk Tabi’at Baik, demikian juga “فَجَارِ” alami jenis untuk Tabi’at Buruk.