4. Ma'rifat & Nakiroh

 

الْنَّكِرَةُ وَالْمَعْرِفَةُ

BAB NAKIROH & MA’RIFAT

 

نَكِرَةٌ قَـــــابِلُ أَلْ مُؤثِّــــرَاً *** أَوْ وَاقِعٌ مَوْقِعَ مَا قَدْ ذُكِرَا

Isim Nakirah adalah Isim yang dapat menerima alif-lam diawalnya dalam keadaan alif-lam memberi pengaruh hukum ma’rifat kepada isim tersebut, atau isim nakiroh adalah Isim yang menempati posisinya isim yang dapat menerima alif-lam pemberi ma’rifat.


وَغَيْــرُهُ مَعْرِفَـةٌ كَــهُمْ وَذِي *** وَهِنْـدَ وَابْنـيِ وَالْغُلاَمِ وَالَّذِي

Selain dari isim yang dapat menerima alif-lam dan isim yang menempati posisinya isim yang dapat menerima alif-lam adalah Isim Ma’rifat, seperti هُمْ (Dhomir), ذِيْ (Isyaroh), هِنْدٌ (Alam), اِبْنِي (Mudhof pada ma’rifat), الغُلَامِ (diawali Alif-lam) dan الَّذِي (Maushul).


فَمَا لِذِي غَيْبَةٍ أوْ حُضُورِ ***  كَأَنْـتَ وَهْـوَ سَمِّ بِالضَّمِيْرِ

Setiap Isim yang menunjukkan arti ghoib (maksudnya berma’na kata ganti “dia”, “dia berdua” atau “mereka”) atau arti hadir (maksudnya berma’na kata ganti “saya”, “kita”, “kami”, “kamu”, “kamu berdua”, dan “kalian”) seperti contoh: اَنْتَ (kamu) dan هْـوَ (dia), maka namailah isim tersebut dengan nama Isim Dhomir.


وَذُو اتِّصَالٍ مِنْهُ مَا لاَ يُبْتَدَا *** وَلاَ يَلِي إلَّا اخْتِيَــــارَاً أبَــدَا

Dhomir berbentuk Muttashil adalah Isim Dhomir yang tidak bisa dijadikan permulaan dan selamanya tidak dapat berada setelah huruf إلَّا dalam keadaan ikhtiar (bukan keadaan darurat nadzom).


كَالْيَاءِ وَالْكَافِ مِنِ ابْني أكْرَمَكْ *** وَالْيَــاءِ وَالْهَا مِنْ سَلِيْهِ مَا مَلَكْ

Contoh isim dhomir muttasil adalah lafadz “Ya” dan “Kaf” dari pada susunan lafadz : ابْني أكْرَمَكَ (artinya : "anaku telah memuliakanmu") dan seperti Ya’ dan Ha’ dari pada susunan lafadz : سَلِيْـــهِ مَا مَلَكْ (artinya : “mintalah kepadanya apa yang dia miliki”)


وَكُـلُّ مُضْمَرٍ لَـهُ الْبِنَا يَجِبْ *** وَلَفْظُ مَا جُرَّ كَلَفْظِ مَا نُصِبْ

Semua Dhomir wajib dihukumi Mabni. Lafadz Dhomir yang dijarkan itu sama bentuknya dengan lafadz Dhomir yang dinashobkan.


لِلرَّفْعِ وَالْنَّصْبِ وَجَرِّ "نَا" صَلَحْ *** كَاعْـرِفْ بِنَا فَـإِنَّنَا نِلْـنَا الْمِـنَحْ

Dhomir Muttashil نَا itu pantas untuk bermahal Rofa’, Nashob, dan Jar. Contohnya : اعْرِفْ بِنَا فَإِنَّنَا نِلْنَا الْمِنَحْ ( lafadz “naa” pada بِنَا = bermahal Jarr, Lafadz “naa” pada  فَإِنَّنَا = bermahal nashab, lafadz “naa” pada نِلْنَا = bermahal rofa’)


وَأَلِفٌ وَالْــوَاوُ وَالْـنُّوْنُّ لِـمَا *** غَـابَ وَغَيْرِهِ كَقَامَا وَاعْلَمَا

Alif, Wau dan Nun itu termasuk Dhomir Muttashil untuk Ghoib juga Hadhir. Seperti contoh: قَامَـا (Alif Dhomir Muttashil Ghoibaini, artinya: “mereka berdua telah berdiri”) dan contoh: اعْلَمـَا (Alif Dhomir Muttashil Mukhothobaini, artinya: “ketahuilah kalian berdua!”).


وَمِنْ ضَمِيْرِ الْرَّفْعِ مَا يَسْتَتِرُ *** كَافْعَلْ أوَافِقْ نَغتَبِطْ إذْ تُشْكَرُ

Dhomir yang harus disimpan (Dhomir Mustatir) ada pada sebagian dhomir  bermahal Rofa’, seperti pada contoh: افْعَلْ أوَافِقْ نَغتَبِطْ إذْ تُشْكرُ  (lafadz افْعَلْ : menyimpan dhomir انتَ . lafadz  أوَافِقْ : menyimpan dhomir انا. Lafadz نَغتَبِطْ = menyimpan dhomir نحن . dan Lafadz  تُشْكرُ : menyimpan dhomir  انتَ.)


وَذُو ارْتِفَاعٍ وَانْفِصَالٍ أَنَا هُوْ *** وَأَنْــتَ وَالْفُـــرُوْعُ لاَ تَشْــتَبِهُ

Dhomir bermahal Rofa’ dan berupa Dhomir Munfashil itu adalah أَنَا, هُوْ, أَنْتَ dan cabang-cabangnya itu tidaklah samar.


وَذُو انْتِصَابٍ فِي انْفِصَالٍ جُعِلاَ *** إيَّايَ وَالْتَّـــفْرِيْعُ لَيْسَ مُشْـــكِلاَ

Dhomir bermahal nashob dan berupa Dhomir Munfashil adalah lafadz إيَايَ  dan cabang-cabangnya itu tidaklah sulit.


وَفِي اخْتِيَارٍ لاَ يَجِيء الْمُنْفَصِلْ *** إذَا تَــــأَتَّى أنْ يَجِيءَ الْمُتَّـصِلْ

Dalam keadaan bisa memilih, tidak boleh mendatangkan Dhomir Munfashil jika masih memungkinkan untuk mendatangkan Dhomir Muttashil.


وَصِلْ أَوِ افْصِلْ هَاء سَلْنِيْهِ وَمَا *** أَشْبَهَـهُ فِي كُنْـتُهُ الْخُــلْفُ انْتَمَى

Muttashil-kanlah atau Munfashil-kanlah..! (boleh memilih) untuk Dhomir Ha’ pada contoh lafadz سَلْنِيْهِ dan dhomir lain yang menyerupainya. Adapun perbedaan Ulama (dalam membuat mutashil atau munfashil) itu bernisbatkan (terdapat) kepada lafadz كُنْتُهُ


كَـــذَاكَ خِلْتَنِيْــهِ وَاتِّصَــــــالاَ *** أَخْتَارُ، غَيْرِي اخْتَارَ اْلانْفِصَالاَ

Seperti itu juga dhomir “ha” pada خِلْتَنِيْهِ , aku (imam ibnu malik) memilih menggunakan Dhomir Muttashil, ulama selainku memilih menggunakan Dhomir Munfashil.


وَقَــــدِّمِ الأَخَصَّ فِي اتِّصَالِ *** وَقَدِّمَنْ مَا شِئْتَ فِي انْفِصَالِ

Dahulukanlah ! Dhomir yang lebih khusus (yaitu mutakalim, lalu mukhotob, lalu ghoib), di dalam penggunaan Dhomir Muttashil. Dan Dahulukanlah Dhomir mana saja yang kamu kehendaki di dalam penggunaan Dhomir Munfashil.


وَفِي اتِّحَادِ الرُّتْبَةِ الْزَمْ فَصْلاَ *** وَقَدْ يُبِيْحُ الْغَــيْبُ فِيْهِ وَصْـــلاَ

Gunakanlah! Dhomir Munfashil untuk perkumpulan Dhomir-Dhomir yg setingkat. Dan terkadang diperbolehkan penggunaan Dhamir Muttashil untuk perkumpulan Dhomir-Dhomir ghoib yg setingkat.


وَقَبْلَ يَا الْنَّفْسِ مَعَ الْفِعْلِ الْتُزِمْ *** نُـــوْنُ وِقَــايَةٍ وَلَيْسِي قَدْ نُظِـــمْ

Sebelum Ya’ Mutakallim yang menyertai Kalimah Fi’il, ditetapkan adanya Nun Wiqoyah (nun pelindung agar fi’il tidak langsung dibaca kasroh akhirnya seperti isim). Sedangkan lafadz لَيْسِي (tanpa nun wiqoyah) itu sungguh telah disusun seperti demikian.


وَلَــيْتَنيِ فَشَا وَلَيْتي نَـــدَرَا *** وَمَعْ لَعَلَّ اعْكِسْ وَكُنْ مُخَيَّراً

Lafadz seperti ليْتَنيِ (dengan Nun Wiqoyah) itu telah terkenal, sedangkan لَيْتي (tanpa Nun Wiqoyah) itu jarang digunakan. Dan baliklah Hukumnya untuk lafadz لَعَلَّ. jadilah kamu orang yang dapat memilih (antara menggunakan nun) …


فِي الْبَاقِيَاتِ وَاضْطِرَارَاً خَفَّفَا *** مِنِّي وَعَنِّي بَعْـضُ مَنْ قَدْ سَلَفَا

…untuk sisa Kalimat Huruf lainnya (saudara لَيْت dan لَعَلَّ , yaitu اِنَّ اَنَّ لَكِنَّ). Dan karena alasan Darurat sya’ir, sebagian ulama terdulu mentakhfifkan (membaca tanpa tasydid terhadap nun wiqoyah) pada lafadz مِنِّي dan عَنِّي .


وَفِــي لَدُنِّــي لَدُنِــي قَـــلَّ وَفِـــي *** قَدْنِي وَقَطْنِي الْحَذْفُ أَيْضَاً قَدْ يَفِي

Untuk lafadz لَدُنِّي (dengan Nun Wiqoyah), penggunaan lafadz لَدُنِي (tanpa Nun Wiqoyah) itu jarang Dan untuk Lafadz قَدْنِي dan قَطْنِي dengan membuang (Nun Wiqoyah) itu terkadang terpenuhi (terjadi dalam beberapa kalam arab).